Digital Clinical Library

2021 Surviving Sepsis Campaign

19 Desember 2025PedomanTropik Infeksi
Lihat PDF

Surviving Sepsis Campaign: Panduan Internasional Manajemen Sepsis dan Syok Septik (2021)

Ringkasan ini mencakup rekomendasi klinis utama dari pedoman Surviving Sepsis Campaign (SSC) tahun 2021 untuk penanganan orang dewasa dengan sepsis atau syok septik.

1. Definisi dan Skrining Awal

Definisi

  • Sepsis: Disfungsi organ yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh respons pejamu (host response) yang tidak teratur terhadap infeksi.
  • Syok Septik: Bagian dari sepsis di mana kelainan sirkulasi dan seluler/metabolik cukup parah untuk meningkatkan mortalitas secara signifikan.

Skrining dan Perbaikan Kinerja

  • Program Kinerja: Rumah sakit direkomendasikan memiliki program peningkatan kinerja sepsis, termasuk skrining sepsis untuk pasien akut berisiko tinggi dan standar prosedur operasional (SOP) pengobatan.
  • Alat Skrining: Direkomendasikan MENENTANG penggunaan qSOFA saja sebagai alat skrining tunggal dibandingkan dengan SIRS, NEWS, atau MEWS. qSOFA memiliki sensitivitas yang buruk untuk skrining awal, meskipun spesifisitasnya tinggi untuk mortalitas.
  • Laktat: Disarankan mengukur laktat darah pada pasien yang dicurigai sepsis.

2. Resusitasi Awal (Initial Resuscitation)

Sepsis dan syok septik adalah keadaan darurat medis; pengobatan dan resusitasi harus segera dimulai.

Manajemen Cairan

  • Volume Awal: Untuk pasien dengan hipoperfusi imbas sepsis atau syok septik, disarankan memberikan setidaknya 30 mL/kg cairan kristaloid IV dalam 3 jam pertama.
  • Jenis Cairan:
    • Pilihan Utama: Kristaloid (Rekomendasi Kuat).
    • Kristaloid Berimbang vs Saline: Disarankan menggunakan kristaloid berimbang (balanced crystalloids seperti Ringer Laktat/Asering) dibandingkan normal saline (NaCl 0.9%) untuk resusitasi.
    • Albumin: Disarankan menggunakan albumin pada pasien yang telah menerima volume kristaloid yang besar.
    • Larangan: Direkomendasikan MENENTANG penggunaan HES (Hydroxyethyl Starches) dan Gelatin untuk resusitasi.
  • Monitoring Cairan Lanjutan:
    • Gunakan parameter dinamis (seperti Passive Leg Raising, variasi volume sekuncup/SVV, variasi tekanan nadi/PPV) dibandingkan pemeriksaan fisik atau parameter statis saja.
    • Gunakan Capillary Refill Time (CRT) sebagai tambahan pengukuran perfusi lainnya.
    • Targetkan penurunan kadar laktat serum pada pasien dengan peningkatan laktat awal.

Target Hemodinamik

  • Mean Arterial Pressure (MAP): Target awal MAP adalah 65 mmHg pada pasien syok septik yang menggunakan vasopresor.

3. Manajemen Infeksi

Diagnosis dan Kontrol Sumber

  • Evaluasi: Untuk pasien dengan dugaan sepsis tetapi infeksi belum terkonfirmasi, rekomendasikan evaluasi ulang terus-menerus. Hentikan antimikroba jika penyebab alternatif terdiagnosis.
  • Kontrol Sumber (Source Control): Identifikasi atau eksklusi diagnosis anatomis infeksi (misal: abses, nekrosis) sesegera mungkin dan lakukan intervensi kontrol sumber segera setelah memungkinkan secara medis dan logistik.
  • Akses Vaskular: Segera lepas perangkat akses intravaskular (CVC/infus) yang menjadi kemungkinan sumber sepsis setelah akses lain dipasang.

Pemberian Antimikroba (Antibiotik)

  • Waktu Pemberian:
    • Syok Septik / Sepsis Probabilitas Tinggi: Berikan antimikroba SEGERA, idealnya dalam 1 jam setelah dikenali.
    • Kemungkinan Sepsis Tanpa Syok: Lakukan penilaian cepat infeksi vs non-infeksi. Berikan antimikroba dalam 3 jam jika kecurigaan infeksi menetap.
    • Kecurigaan Infeksi Rendah Tanpa Syok: Tunda antimikroba, pantau ketat pasien.
  • Biomarker: Disarankan MENENTANG penggunaan Procalcitonin (PCT) untuk memutuskan memulai antimikroba. PCT lebih berguna untuk memutuskan penghentian obat.

Pemilihan Antimikroba

  • MRSA: Gunakan empiris MRSA hanya jika pasien risiko tinggi (riwayat MRSA, prevalensi lokal tinggi).
  • MDR Gram-Negatif: Gunakan dua agen gram-negatif untuk terapi empiris hanya pada pasien risiko tinggi MDR.
  • Antijamur: Gunakan antijamur empiris hanya pada pasien risiko tinggi infeksi jamur (neutropenia, imunosupresi berat).
  • Metode Infus: Disarankan infus berkepanjangan (prolonged infusion) untuk antibiotik beta-laktam (setelah bolus awal) dibandingkan infus bolus konvensional.

4. Manajemen Hemodinamik (Vasoaktif & Inotropik)

Vasopresor

  1. Lini Pertama: Norepinefrin adalah pilihan utama.
  2. Lini Kedua: Jika MAP tidak tercapai dengan Norepinefrin, disarankan menambahkan Vasopressin (biasanya saat dosis norepinefrin 0.25-0.5 mcg/kg/menit) daripada menaikkan dosis norepinefrin terus-menerus.
  3. Lini Ketiga: Epinefrin dapat ditambahkan jika MAP masih tidak adekuat.
  • Terlipressin: Disarankan MENENTANG penggunaan Terlipressin.
  • Akses: Disarankan memulai vasopresor melalui akses vena perifer (untuk sementara) untuk memulihkan MAP dengan cepat, daripada menunda sampai akses vena sentral (CVC) terpasang.

Inotropik

  • Jika terdapat disfungsi jantung dengan hipoperfusi persisten meskipun status volume dan tekanan darah adekuat: Tambahkan Dobutamin (bersama Norepinefrin) atau gunakan Epinefrin.
  • Disarankan MENENTANG penggunaan Levosimendan.

Pemantauan

  • Disarankan menggunakan pemantauan tekanan darah invasif (arterial line) segera setelah memungkinkan.

5. Ventilasi Mekanis (Respiratory Support)

Oksigenasi

  • Target: Bukti tidak cukup untuk merekomendasikan target oksigen konservatif vs liberal.
  • High Flow Nasal Cannula (HFNC): Disarankan menggunakan HFNC dibandingkan ventilasi non-invasif (NIV) pada pasien gagal napas hipoksemik imbas sepsis.

Pasien ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome)

  • Volume Tidal: Gunakan strategi ventilasi volume tidal rendah (6 mL/kg berat badan prediksi) dibandingkan volume tidal tinggi (>10 mL/kg).
  • Tekanan Plateau: Batasi tekanan plateau < 30 cmH2O.
  • PEEP: Gunakan PEEP tinggi (higher PEEP) pada ARDS sepsis sedang-berat.
  • Manuver Rekruitmen: Disarankan menggunakan manuver rekruitmen tradisional pada ARDS sedang-berat. JANGAN gunakan titrasi PEEP inkremental (staircase).
  • Posisi Prone: Rekomendasi KUAT untuk melakukan Prone Positioning (tengkurap) selama >12 jam/hari pada pasien ARDS sepsis sedang-berat (Rasio PaO2/FiO2 < 150).
  • Pelumpuh Otot (NMBA): Disarankan penggunaan bolus intermiten NMBA daripada infus kontinu, kecuali diperlukan untuk memfasilitasi ventilasi paru protektif.
  • ECMO: Disarankan penggunaan VV-ECMO pada ARDS berat jika ventilasi konvensional gagal, di senter yang berpengalaman.

6. Terapi Tambahan (Adjunctive Therapies)

  • Kortikosteroid: Disarankan menggunakan Hidrokortison IV (200 mg/hari) pada pasien syok septik yang kebutuhan vasopresornya menetap ( $\ge$ 4 jam) dan dosis tinggi (Norepinefrin $\ge$ 0.25 mcg/kg/min).
  • Pemurnian Darah (Blood Purification): Disarankan MENENTANG penggunaan hemoperfusi Polymyxin B. Tidak ada rekomendasi cukup untuk teknik pemurnian darah lainnya.
  • Transfusi Darah: Gunakan strategi transfusi restriktif (Trigger Hb < 7.0 g/dL) kecuali ada iskemia miokard, hipoksemia berat, atau perdarahan akut.
  • Imunoglobulin: Disarankan MENENTANG penggunaan IVIG rutin.
  • Profilaksis Ulkus Stres: Disarankan pada pasien dengan faktor risiko perdarahan GI (misal: ventilasi mekanis >48 jam, koagulopati).
  • Profilaksis VTE: Gunakan profilaksis farmakologis (LMWH lebih disarankan daripada UFH) kecuali kontraindikasi.
  • Vitamin C: Disarankan MENENTANG penggunaan Vitamin C IV rutin.
  • Bikarbonat:
    • Jangan gunakan untuk memperbaiki hemodinamik pada asidosis laktat hipoperfusi (pH > 7.15).
    • Disarankan digunakan pada asidosis metabolik berat (pH $\le$ 7.2) dengan cedera ginjal akut (AKI).
  • Nutrisi: Mulai nutrisi enteral dini (dalam 72 jam) jika pasien bisa diberi makan.

7. Hasil Jangka Panjang dan Tujuan Perawatan (Goals of Care)

  • Diskusi Tujuan: Disarankan mendiskusikan tujuan perawatan (goals of care) dan prognosis dengan pasien/keluarga sesegera mungkin (dalam 72 jam).
  • Perawatan Paliatif: Integrasikan prinsip perawatan paliatif ke dalam rencana pengobatan untuk mengatasi gejala dan penderitaan.
  • Pemulangan: Lakukan rekonsiliasi obat, berikan edukasi sepsis secara lisan dan tertulis, dan rencanakan tindak lanjut (follow-up) untuk gangguan fisik, kognitif, dan emosional pasca-sepsis.