Informasi Dokumen
- Judul: Diagnosis and Management of Community-acquired Pneumonia: An Official American Thoracic Society Clinical Practice Guideline
- Organisasi: American Thoracic Society (ATS)
- Tanggal Disetujui: Mei 2025
- Populasi Target: Pasien dewasa imunokompeten (memiliki kekebalan tubuh normal)
- Pengecualian:
- Pasien imunokompromais
- Pneumonia SARS-CoV-2 selama masa pandemi
1. Diagnosis: Ultrasonografi Paru (LUS) vs Rontgen Dada (CXR)
Rekomendasi
Ultrasonografi paru (LUS) disarankan sebagai alternatif diagnostik yang dapat diterima dibandingkan rontgen dada (CXR) di pusat medis yang memiliki keahlian klinis yang sesuai.
- Kekuatan rekomendasi: Kondisional
- Kualitas bukti: Rendah
Rasional
- Akurasi LUS ditemukan setidaknya setara dengan rontgen dada dalam mengonfirmasi kecurigaan klinis pneumonia.
- Meta-analisis menunjukkan:
- Sensitivitas median LUS: 95%
- Sensitivitas rontgen dada: 70%
Kriteria Keahlian (Expertise)
Penggunaan LUS harus memenuhi kriteria berikut:
- Pelatihan formal operator
- Penggunaan protokol standar:
- Evaluasi area anterior, lateral, dan posterior
- Pengarsipan video loop 2–4 detik
- Dokumentasi resmi hasil pemeriksaan dalam rekam medis
2. Terapi Antibiotik Empiris pada Hasil Tes Virus Positif
Keputusan pemberian antibiotik empiris didasarkan pada risiko koinfeksi bakteri-virus.
Rekomendasi Berdasarkan Setting Klinis
Pasien Rawat Jalan
- Tanpa komorbiditas:
- Disarankan TIDAK memberikan antibiotik empiris bila tes virus pernapasan positif
- Dengan komorbiditas:
- Disarankan memberikan antibiotik empiris karena kekhawatiran koinfeksi bakteri
Pasien Rawat Inap
- CAP non-berat:
- Disarankan memberikan antibiotik empiris
- CAP berat:
- Direkomendasikan pemberian antibiotik empiris
- Rekomendasi kuat secara klinis untuk mencegah kematian
Komorbiditas yang Dipertimbangkan (Tabel 5)
- Penyakit paru kronis selain asma (PPOK, bronkiektasis)
- Penyakit hati stadium akhir
- Penyakit ginjal stadium akhir
- Penyakit kardiovaskular (gagal jantung, penyakit arteri koroner)
- Alkoholisme
- Keganasan
3. Durasi Pengobatan Antibiotik
Rekomendasi Berdasarkan Tingkat Keparahan
Pasien yang Telah Mencapai Stabilitas Klinis
- Rawat Jalan:
- Disarankan durasi < 5 hari (minimal 3 hari)
- Rawat Inap Non-berat:
- Disarankan durasi < 5 hari (minimal 3 hari)
- Rawat Inap Berat:
- Disarankan durasi ≥ 5 hari
- Alasan: Risiko kematian lebih tinggi jika terapi tidak adekuat
Kriteria Stabilitas Klinis (Tabel 6)
Pasien dinyatakan stabil secara klinis bila memenuhi seluruh kriteria berikut:
- Suhu tubuh ≤ 37,8°C
- Laju nadi < 100 bpm
- Laju napas < 24 bpm
- SpO₂ ≥ 90% atau PaO₂ ≥ 60 mmHg pada udara ruangan
- Tekanan darah sistolik ≥ 90 mmHg
- Status mental normal
4. Penggunaan Kortikosteroid Sistemik
Rekomendasi
-
CAP non-berat yang dirawat di rumah sakit:
- Direkomendasikan TIDAK memberikan kortikosteroid sistemik secara rutin
- Alasan: Risiko efek samping, terutama hiperglikemia
-
CAP berat yang dirawat di rumah sakit:
- Disarankan pemberian kortikosteroid sistemik
- Rekomendasi kondisional
Manfaat Klinis
- Penurunan mortalitas pada CAP berat:
- 9,8% pada kelompok kortikosteroid
- 15,1% pada kelompok kontrol
Pengecualian
- Kortikosteroid tidak disarankan pada pneumonia akibat virus influenza
- Data observasional menunjukkan potensi bahaya pada kelompok ini
5. Faktor Pasien Individu (Penting untuk Personalisasi)
Klinisi harus mempertimbangkan faktor-faktor berikut yang dapat memperlemah atau memperkuat rekomendasi (Tabel 1):
Faktor yang Mempengaruhi Durasi dan Pilihan Terapi
-
Hambatan komunikasi:
- Dapat memperlemah rekomendasi durasi singkat
- Risiko pemantauan mandiri yang buruk
-
Komplikasi pneumonia:
- Empiema
- Abses paru
- Bakteremia
- Infeksi bakteri resisten (Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa)
- Membutuhkan durasi pengobatan yang lebih lama
-
Risiko efek samping:
- Riwayat infeksi Clostridioides difficile
- Alergi antibiotik berat
-
Kondisi paru dasar:
- Bronkiektasis
- Hipoksemia kronis
- Dapat memperlemah rekomendasi pengobatan durasi singkat
Catatan: Pedoman ini menekankan pendekatan berbasis bukti, personalisasi terapi, dan prinsip antimicrobial stewardship untuk menurunkan resistensi antimikroba.