Digital Clinical Library

2024 AASLD Practice Guidance on Acute on Chronic Liver

21 Desember 2025PedomanGastroenterohepatologi
Lihat PDF

Ringkasan AASLD Practice Guidance: Acute-on-Chronic Liver Failure (ACLF) & Pasien Kritis dengan Sirosis

Sumber: AASLD Practice Guidance 2023 .


1. Definisi & Konsep Dasar

Acute-on-Chronic Liver Failure (ACLF) adalah sindrom yang terjadi pada pasien dengan penyakit hati kronik (dengan atau tanpa sirosis) yang ditandai dengan perburukan akut kondisi klinis .

Komponen Kritis Definisi ACLF

AASLD menyarankan 3 elemen kunci untuk mendefinisikan ACLF :

  1. Onset Akut: Deteriorasi kondisi klinis yang cepat.
  2. Gagal Hati: Ditandai dengan peningkatan Bilirubin dan peningkatan INR (koagulopati).
  3. Gagal Organ Ekstrahepatik: Adanya minimal satu kegagalan organ lain (Ginjal, Neurologis, Sirkulasi, atau Respirasi).

2. Kriteria Diagnosis & Skor Prognostik

Terdapat variasi definisi berdasarkan wilayah (APASL, EASL-CLIF, NACSELD). Penggunaan skor spesifik ACLF lebih disarankan dibandingkan skor MELD konvensional untuk prognostik pasien kritis .

Perbandingan Sistem Skor ACLF

FiturNACSELD-ACLFEASL-CLIF (CLIF-C)APASL (AARC)
Fokus PopulasiAmerika Utara (Pasien Kritis/ICU)Eropa (Dekompensasi Akut)Asia Pasifik
Gagal HatiTidak spesifik (masuk dalam MELD)Bilirubin ≥ 12 mg/dLBilirubin ≥ 5 mg/dL & INR ≥ 1.5
Gagal GinjalDialisis (RRT)Kreatinin ≥ 2 mg/dL atau RRTKreatinin ≥ 1.5 mg/dL
Gagal OtakEnsefalopati Grade 3–4Ensefalopati Grade 3–4Ensefalopati (sebagai parameter)
SirkulasiSyokPenggunaan VasopresorLaktat (sebagai parameter)
RespirasiVentilasi MekanisPaO₂/FiO₂ ≤ 200-
KelebihanMudah digunakan di bedsideStratifikasi risiko detailFokus pada reaktivasi Hep B/Alkohol

Rekomendasi: Lakukan penilaian serial skor ACLF (misal: Hari ke-3 s.d. ke-7) untuk memprediksi prognosis dengan lebih akurat dibandingkan penilaian tunggal saat masuk RS .


3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan berikut direkomendasikan untuk evaluasi pasien ACLF dan sirosis kritis:

  • Infeksi (Sepsis Workup):
    • Kultur darah (2 set), urinalisis, kultur urin, dan Rontgen Thorax .
    • Parasentesis Diagnostik: Wajib dilakukan pada pasien dengan asites baru atau memburuk untuk menyingkirkan Peritonitis Bakterialis Spontan (SBP) .
  • Hemodinamik:
    • Ekokardiografi (POCUS): Menilai status volume, fungsi ventrikel kiri/kanan, dan menyingkirkan kardiomiopati .
    • Pemantauan arteri invasif dan kateter vena sentral disarankan pada pasien syok .
  • Biomarker:
    • Laktat: Prediktor mortalitas yang kuat (Model MELD-LA) .
  • Koagulasi:
    • Gunakan Viscoelastic Testing (TEG/ROTEM) daripada INR untuk menilai risiko perdarahan, karena INR tidak mencerminkan status hemostasis sebenarnya pada sirosis .

4. Tata Laksana (Management)

A. Kegagalan Otak (Ensefalopati Hepatikum / HE)

  • Derajat Berat: Grade 3 atau 4 (West Haven) atau GCS < 8 mengindikasikan cedera berat dan perlu perawatan ICU .
  • Jalan Napas: Lakukan intubasi jika pasien tidak mampu memproteksi jalan napas atau risiko aspirasi tinggi .
  • Terapi Farmakologis:
    • Berikan Laktulosa (oral atau enema) sebagai terapi lini pertama .
    • Hindari sedasi kerja panjang (seperti benzodiazepin/opioid). Gunakan Propofol atau Dexmedetomidine untuk sedasi karena waktu paruh pendek .
  • Investigasi: Cari penyebab lain penurunan kesadaran (perdarahan intrakranial, stroke) jika tidak respons terhadap terapi standar .

B. Kegagalan Sirkulasi (Syok)

  • Target Tekanan Darah: Pertahankan MAP ≥ 65 mmHg .
  • Resusitasi Cairan:
    • Gunakan Kristaloid Balanced (misal: Ringer Laktat) dan/atau Albumin .
    • Hindari over-resuscitation dengan pemantauan hemodinamik dinamis .
  • Vasopresor:
    • Lini Pertama: Norepinefrin .
    • Lini Kedua: Tambahkan Vasopresin jika dosis norepinefrin meningkat .
  • Syok Refrakter: Pertimbangkan Hidrokortison (50 mg IV tiap 6 jam) jika syok menetap dengan vasopresor dosis tinggi (kecurigaan insufisiensi adrenal relatif) .

C. Kegagalan Respirasi

  • Target Oksigenasi:
    • Gunakan High-Flow Nasal Cannula (HFNC) untuk gagal napas hipoksemik akut sebagai alternatif intubasi awal, dengan pemantauan ketat .
  • Ventilasi Mekanis:
    • Terapkan Proteksi Paru (Lung Protective Strategy): Volume tidal rendah (6–8 mL/kg Berat Badan Prediksi) dan Plateau Pressure < 30 cmH₂O .
    • Pada ARDS Ringan (PaO₂/FiO₂ 200–300): Gunakan PEEP Rendah untuk mencegah penurunan venous return akibat tekanan intratorakal tinggi .
  • Manajemen Cairan Paru: Lakukan Torakosentesis jika terdapat hidrotorak hepatik yang mengganggu pernapasan .

D. Kegagalan Ginjal (AKI & HRS-AKI)

  • Langkah Awal:
    • Hentikan diuretik dan obat nefrotoksik .
    • Atasi faktor presipitasi (misal: infeksi) .
    • Berikan tantangan cairan Albumin: Dosis 1 g/kgBB (maksimal 100 g/hari) selama 48 jam .
  • Terapi Farmakologis (Jika kriteria HRS terpenuhi):
    • Kombinasi Vasokonstriktor + Albumin direkomendasikan .
    • Obat Pilihan: Terlipresin (infus kontinu atau bolus) atau Norepinefrin (terutama jika pasien syok/hipotensi berat) .
    • Peringatan: Hati-hati penggunaan Terlipresin pada pasien dengan gagal napas (ACLF grade 3) karena risiko edema paru .
  • Terapi Pengganti Ginjal (RRT):
    • Direkomendasikan sebagai jembatan menuju transplantasi hati . Tidak rutin disarankan untuk pasien yang bukan kandidat transplantasi kecuali ada indikasi reversibel lainnya.

E. Infeksi

  • Antibiotik:
    • Segera berikan antibiotik spektrum luas di IGD (jam pertama) jika curiga sepsis .
    • Pilih antibiotik berdasarkan pola resistensi lokal dan faktor risiko MDR (Multi-Drug Resistant) .
    • Eskalasi: Pertimbangkan cakupan jamur atau bakteri MDR jika tidak ada perbaikan klinis setelah 48 jam .
  • Pencegahan:
    • Hindari penggunaan PPI (Proton Pump Inhibitor) jangka panjang tanpa indikasi jelas .
    • Minimalkan penggunaan kateter urin (Foley) untuk mencegah infeksi nosokomial .

F. Nutrisi

  • Jalur Pemberian: Nutrisi Enteral (lewat NGT/oral) lebih disarankan daripada Parenteral . Tunda jika vasopresor dosis tinggi atau instabilitas berat .
  • Target Kalori: Mulai 12–25 kkal/kg pada fase akut, tingkatkan bertahap menuju 35 kkal/kg .
  • Target Protein: 1.2 – 2.0 g/kgBB/hari. Restriksi protein tidak direkomendasikan .
  • Gula Darah: Pertahankan target Gula Darah 140 – 180 mg/dL .

5. Transplantasi Hati

  • Evaluasi Dini: Pasien ACLF harus dievaluasi segera untuk kelayakan transplantasi hati .
  • Jendela Sempit: Transplantasi paling efektif jika dilakukan setelah stabilisasi organ awal (biasanya 3-7 hari pasca ICU). Perburukan menjadi kegagalan 4+ organ seringkali dianggap futile (sia-sia) jika tidak segera ditransplantasi .