Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC-HIV (Kemenkes RI, 2023)
BAB I: MANAJEMEN TATA LAKSANA KLINIS
A. Skrining TBC pada ODHIV
Setiap ODHIV yang berkunjung ke layanan wajib diskrining TBC menggunakan 5 Pertanyaan (4 Gejala + 1 Tanda) .
Gejala & Tanda:
- Batuk
- Demam hilang timbul
- Berat badan menurun tanpa sebab yang jelas
- Keringat malam tanpa kegiatan
- Gejala ekstra paru (misal: pembesaran KGB leher/ketiak)
Algoritma Keputusan:
- Tidak ada gejala: Berikan TPT (Terapi Pencegahan TBC) .
- Ada salah satu gejala: Periksa TCM (Tes Cepat Molekuler) atau LF-LAM (jika memenuhi syarat) .
B. Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT)
Diberikan kepada ODHIV yang terbukti tidak sakit TBC aktif.
Tabel Pilihan Paduan TPT 2023:
| Paduan | Obat | Durasi | Frekuensi | Sasaran Utama |
|---|---|---|---|---|
| 3HP | Isoniazid + Rifapentin | 3 Bulan | Mingguan | ODHIV Dewasa & Remaja (>14 th) |
| 6H | Isoniazid | 6 Bulan | Harian | ODHIV semua umur (termasuk bumil) |
| 6Lfx | Levofloxacin | 6 Bulan | Harian | Kontak serumah TBC-RO (Anak) |
| 6Lfx+E | Levofloxacin + Etambutol | 6 Bulan | Harian | Kontak serumah TBC-RO (Dewasa) |
Catatan Penting TPT:
- Ibu Hamil: 3HP tidak direkomendasikan (data keamanan terbatas). Gunakan 6H .
- Kontrasepsi: Rifapentine (3HP) berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal. Sarankan kontrasepsi penghalang (kondom/IUD) .
- Vitamin B6: Wajib diberikan 25mg/hari pada semua paduan berbasis INH .
C. Diagnosis TBC (Update: LF-LAM)
Selain TCM, diagnosis pada ODHIV kini dapat dibantu dengan LF-LAM (Urine).
Indikasi Pemeriksaan LF-LAM:
- ODHIV dengan tanda/gejala TBC.
- ODHIV dengan Advanced HIV Disease (AHD) atau sakit berat.
- ODHIV dengan CD4 < 200 sel/mm³ (tanpa memandang gejala).
Alur Diagnosis LF-LAM:
- Positif (+): Mulai OAT. (Tetap kirim TCM untuk cek resistensi obat) .
- Negatif (-): Wajib konfirmasi dengan TCM .
D. Pengobatan Pasien Koinfeksi TBC-HIV
1. Prinsip Waktu Pemberian Obat ("Timing")
- ODHIV baru terdiagnosis TBC: Mulai OAT dulu. ARV dimulai sesegera mungkin dalam 2 minggu pertama pengobatan TBC (tanpa melihat CD4) .
- Pengecualian (Meningitis TBC): Tunda ARV minimal 4-8 minggu setelah OAT untuk mencegah IRIS berat pada otak .
- Pasien yang sedang ARV lalu kena TBC: Lanjutkan ARV, segera mulai OAT .
2. Paduan ARV & Interaksi Obat (PENTING)
Paduan pilihan utama adalah TDF + 3TC + DTG (TLD). Namun, ada interaksi kuat antara Rifampisin (Obat TB) dan Dolutegravir (DTG).
Penyesuaian Dosis DTG pada Pasien TBC:
- Dosis DTG harus ditingkatkan menjadi 2x sehari.
- Tambahkan 1 tablet DTG 50mg tunggal (berjarak 12 jam dari dosis kombinasi TLD).
Tabel Interaksi Obat:
| Obat ARV | Interaksi dengan Rifampisin | Tindakan Klinis |
|---|---|---|
| DTG (Dolutegravir) | Menurunkan kadar DTG | Tambah dosis DTG (total 2x 50mg/hari) |
| EFV (Efavirenz) | Tidak ada interaksi signifikan | Dosis standar (600mg) |
| NVP (Nevirapine) | Menurunkan kadar NVP drastis | KONTRAINDIKASI. Ganti ke EFV atau DTG |
| Lopinavir/r | Menurunkan kadar LPV | Double Dose LPV/r (tapi risiko hepatotoksik tinggi) |
BAB II: OPERASIONAL LAYANAN (ONE STOP SERVICE)
Tujuannya adalah mencegah pasien "hilang" saat dirujuk antar-poli.
Model 1: Layanan Satu Atap (Ideal)
Pasien menerima layanan TBC dan HIV di satu ruangan poli oleh tim yang sama .
- Anamnesis & Skrining.
- Tes TCM dan Tes HIV di tempat.
- Pemberian OAT dan ARV di satu titik.
Model 2: Poliklinik Berbeda (Satu RS)
Jika poli terpisah, lakukan Kolaborasi Parsial:
- Di Poli TBC: Petugas TBC melakukan tes HIV. Jika positif, mulai ARV di Poli TBC (atau rujukan internal sangat ketat), lalu catat di formulir kolaborasi .
- Di Poli HIV: Petugas HIV melakukan skrining TBC. Jika terduga, ambil sampel dahak di Poli HIV (jangan suruh pasien jalan sendiri antri ulang di Poli TBC jika memungkinkan) .
BAB III: LOGISTIK & PENCATATAN
Logistik Kunci
- Obat TPT (3HP): Disediakan pusat, satu pintu melalui Satker P2PM .
- ARV & OAT: Wajib tersedia buffer stock untuk antisipasi pasien koinfeksi.
Indikator Keberhasilan (Target)
- Persentase pasien TBC mengetahui status HIV .
- Persentase pasien TBC-HIV yang mendapatkan ARV (Target: 100%) .
- Persentase pemberian TPT pada ODHIV baru .
Lanjutan Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC-HIV (Bagian 2: Operasional & Manajemen)
BAB IV: PENGORGANISASIAN & PERAN KOMUNITAS
Kolaborasi TBC-HIV tidak hanya urusan medis, tapi juga melibatkan komunitas untuk pendampingan pasien agar tidak loss to follow-up.
A. Pembagian Tugas Koordinator Layanan
Agar "One Stop Service" berjalan, setiap level harus menunjuk koordinator:
1. Tingkat Puskesmas
- Mengoordinasikan PJ Klaster TBC & HIV.
- Memastikan logistik (OAT, ARV, TPT, Reagen) tersedia.
- Memantau input data ke SITB dan SIHA.
- Memastikan komunitas melakukan skrining TBC pada ODHIV dampingan.
2. Tingkat Rumah Sakit
- Ditunjuk oleh Direktur RS.
- Memastikan ketersediaan logistik di farmasi RS.
- Mengawasi rujukan internal antar-poli (jangan sampai pasien disuruh bolak-balik sendiri tanpa pengantar).
B. Peran Komunitas (LSM/Kader)
Komunitas memiliki indikator keberhasilan yang sama dengan fasyankes dalam meningkatkan cakupan.
Tugas Komunitas Pendukung TBC:
- Edukasi pasien TBC untuk mau tes HIV.
- Mengantar pasien TBC positif HIV ke layanan ARV.
- Mendampingi minum obat OAT.
- Melakukan pelacakan kontak (investigasi kontak).
Tugas Komunitas Pendukung HIV:
- Skrining TBC pada ODHIV (4 Gejala + 1 Tanda).
- Merujuk ODHIV terduga TBC ke poli TBC.
- Memastikan ODHIV yang tidak sakit TBC mendapatkan TPT.
- Membantu kepatuhan minum ARV.
BAB V: KOLABORASI TBC-HIV DI LAPAS/RUTAN
Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) memiliki risiko 10 kali lebih tinggi terkena TBC dibanding populasi umum .
Prinsip Layanan di Lapas/Rutan
- Skrining Wajib: Saat WBP baru masuk, saat ada gejala, dan skrining massal berkala.
- One Stop Service: Layanan TBC dan HIV dilakukan di Klinik Lapas pada waktu bersamaan.
- Logistik: Disediakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat (Lapas sebagai satelit Puskesmas/Dinkes).
- Isolasi: WBP yang infeksius (TBC paru bakteriologis positif) harus dipisahkan dari WBP lain selama fase penularan.
BAB VI: PENCATATAN & PELAPORAN (SITB - SIHA)
Tantangan terbesar kolaborasi adalah beda aplikasi (SITB untuk TBC, SIHA untuk HIV). Berikut jembatannya:
1. Alur Pencatatan (Model Poli Terpisah)
Di Poli TBC:
- Pasien TBC dites HIV.
- Hasil tes HIV dicatat di Formulir TBC.06 dan diinput ke SITB.
- Jika Positif HIV:
- Rujuk ke Poli HIV dengan Formulir Rujukan Tes & Pengobatan HIV.
- Petugas TBC mencatat status "Mulai ARV" di TBC.01.
Di Poli HIV:
- ODHIV diskrining TBC.
- Hasil skrining dicatat di Ikhtisar Perawatan HIV dan diinput ke SIHA.
- Jika Terduga TBC:
- Rujuk ke Poli TBC dengan Formulir Rujukan Tes & Pengobatan TBC.
- Petugas HIV menerima umpan balik hasil diagnosis (TBC Positif/Negatif) dari Poli TBC untuk diinput ke SIHA.
2. Indikator Keberhasilan (Target Nasional)
Fasyankes wajib memantau indikator ini setiap bulan/triwulan:
| No | Indikator | Target Ideal | Sumber Data |
|---|---|---|---|
| 1 | Persentase pasien TBC mengetahui status HIV | 100% | SITB |
| 2 | Persentase pasien TBC-HIV mendapatkan ARV | 100% | SITB |
| 3 | Persentase pemberian TPT pada ODHIV baru | $\ge$ 50% | SIHA |
| 4 | Persentase ODHIV baru yang diskrining TBC | 100% | SIHA |
LAMPIRAN: LOGISTIK OBAT
Daftar Logistik Wajib Tersedia
Dinas Kesehatan dan Fasyankes wajib menghitung stok penyangga (buffer stock) untuk item berikut agar tidak terjadi kekosongan saat pasien koinfeksi datang:
1. Program HIV:
- Reagen Rapid Test (R1, R2, R3).
- Obat ARV (Kombinasi Dosis Tetap/TLD).
- Obat TPT (Kombinasi 3HP atau Isoniazid Lepasan).
- Kotrimoksasol 960mg.
2. Program TBC:
- Cartridge TCM (Tes Cepat Molekuler).
- OAT Lini Pertama (KDT dan Lepasan).
- Obat efek samping (Vitamin B6, Antiemetik).
Rumus Perhitungan Stok 3HP:
(Target ODHIV Baru + ODHIV Lama yang belum TPT) x Persentase Target TPTSatu pasien membutuhkan 1 paket (isi 36 tablet untuk 12 minggu).