Digital Clinical Library

2023 Kemenkes Juknis TBC HIV

14 Desember 2025JuknisPulmonologi
Lihat PDF

Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC-HIV (Kemenkes RI, 2023)

BAB I: MANAJEMEN TATA LAKSANA KLINIS

A. Skrining TBC pada ODHIV

Setiap ODHIV yang berkunjung ke layanan wajib diskrining TBC menggunakan 5 Pertanyaan (4 Gejala + 1 Tanda) .

Gejala & Tanda:

  1. Batuk
  2. Demam hilang timbul
  3. Berat badan menurun tanpa sebab yang jelas
  4. Keringat malam tanpa kegiatan
  5. Gejala ekstra paru (misal: pembesaran KGB leher/ketiak)

Algoritma Keputusan:

  • Tidak ada gejala: Berikan TPT (Terapi Pencegahan TBC) .
  • Ada salah satu gejala: Periksa TCM (Tes Cepat Molekuler) atau LF-LAM (jika memenuhi syarat) .

B. Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT)

Diberikan kepada ODHIV yang terbukti tidak sakit TBC aktif.

Tabel Pilihan Paduan TPT 2023:

PaduanObatDurasiFrekuensiSasaran Utama
3HPIsoniazid + Rifapentin3 BulanMingguanODHIV Dewasa & Remaja (>14 th)
6HIsoniazid6 BulanHarianODHIV semua umur (termasuk bumil)
6LfxLevofloxacin6 BulanHarianKontak serumah TBC-RO (Anak)
6Lfx+ELevofloxacin + Etambutol6 BulanHarianKontak serumah TBC-RO (Dewasa)

Catatan Penting TPT:

  • Ibu Hamil: 3HP tidak direkomendasikan (data keamanan terbatas). Gunakan 6H .
  • Kontrasepsi: Rifapentine (3HP) berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal. Sarankan kontrasepsi penghalang (kondom/IUD) .
  • Vitamin B6: Wajib diberikan 25mg/hari pada semua paduan berbasis INH .

C. Diagnosis TBC (Update: LF-LAM)

Selain TCM, diagnosis pada ODHIV kini dapat dibantu dengan LF-LAM (Urine).

Indikasi Pemeriksaan LF-LAM:

  1. ODHIV dengan tanda/gejala TBC.
  2. ODHIV dengan Advanced HIV Disease (AHD) atau sakit berat.
  3. ODHIV dengan CD4 < 200 sel/mm³ (tanpa memandang gejala).

Alur Diagnosis LF-LAM:

  • Positif (+): Mulai OAT. (Tetap kirim TCM untuk cek resistensi obat) .
  • Negatif (-): Wajib konfirmasi dengan TCM .

D. Pengobatan Pasien Koinfeksi TBC-HIV

1. Prinsip Waktu Pemberian Obat ("Timing")

  • ODHIV baru terdiagnosis TBC: Mulai OAT dulu. ARV dimulai sesegera mungkin dalam 2 minggu pertama pengobatan TBC (tanpa melihat CD4) .
  • Pengecualian (Meningitis TBC): Tunda ARV minimal 4-8 minggu setelah OAT untuk mencegah IRIS berat pada otak .
  • Pasien yang sedang ARV lalu kena TBC: Lanjutkan ARV, segera mulai OAT .

2. Paduan ARV & Interaksi Obat (PENTING)

Paduan pilihan utama adalah TDF + 3TC + DTG (TLD). Namun, ada interaksi kuat antara Rifampisin (Obat TB) dan Dolutegravir (DTG).

Penyesuaian Dosis DTG pada Pasien TBC:

  • Dosis DTG harus ditingkatkan menjadi 2x sehari.
  • Tambahkan 1 tablet DTG 50mg tunggal (berjarak 12 jam dari dosis kombinasi TLD).

Tabel Interaksi Obat:

Obat ARVInteraksi dengan RifampisinTindakan Klinis
DTG (Dolutegravir)Menurunkan kadar DTGTambah dosis DTG (total 2x 50mg/hari)
EFV (Efavirenz)Tidak ada interaksi signifikanDosis standar (600mg)
NVP (Nevirapine)Menurunkan kadar NVP drastisKONTRAINDIKASI. Ganti ke EFV atau DTG
Lopinavir/rMenurunkan kadar LPVDouble Dose LPV/r (tapi risiko hepatotoksik tinggi)

BAB II: OPERASIONAL LAYANAN (ONE STOP SERVICE)

Tujuannya adalah mencegah pasien "hilang" saat dirujuk antar-poli.

Model 1: Layanan Satu Atap (Ideal)

Pasien menerima layanan TBC dan HIV di satu ruangan poli oleh tim yang sama .

  • Anamnesis & Skrining.
  • Tes TCM dan Tes HIV di tempat.
  • Pemberian OAT dan ARV di satu titik.

Model 2: Poliklinik Berbeda (Satu RS)

Jika poli terpisah, lakukan Kolaborasi Parsial:

  • Di Poli TBC: Petugas TBC melakukan tes HIV. Jika positif, mulai ARV di Poli TBC (atau rujukan internal sangat ketat), lalu catat di formulir kolaborasi .
  • Di Poli HIV: Petugas HIV melakukan skrining TBC. Jika terduga, ambil sampel dahak di Poli HIV (jangan suruh pasien jalan sendiri antri ulang di Poli TBC jika memungkinkan) .

BAB III: LOGISTIK & PENCATATAN

Logistik Kunci

  • Obat TPT (3HP): Disediakan pusat, satu pintu melalui Satker P2PM .
  • ARV & OAT: Wajib tersedia buffer stock untuk antisipasi pasien koinfeksi.

Indikator Keberhasilan (Target)

  1. Persentase pasien TBC mengetahui status HIV .
  2. Persentase pasien TBC-HIV yang mendapatkan ARV (Target: 100%) .
  3. Persentase pemberian TPT pada ODHIV baru .

Lanjutan Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC-HIV (Bagian 2: Operasional & Manajemen)

BAB IV: PENGORGANISASIAN & PERAN KOMUNITAS

Kolaborasi TBC-HIV tidak hanya urusan medis, tapi juga melibatkan komunitas untuk pendampingan pasien agar tidak loss to follow-up.

A. Pembagian Tugas Koordinator Layanan

Agar "One Stop Service" berjalan, setiap level harus menunjuk koordinator:

1. Tingkat Puskesmas

  • Mengoordinasikan PJ Klaster TBC & HIV.
  • Memastikan logistik (OAT, ARV, TPT, Reagen) tersedia.
  • Memantau input data ke SITB dan SIHA.
  • Memastikan komunitas melakukan skrining TBC pada ODHIV dampingan.

2. Tingkat Rumah Sakit

  • Ditunjuk oleh Direktur RS.
  • Memastikan ketersediaan logistik di farmasi RS.
  • Mengawasi rujukan internal antar-poli (jangan sampai pasien disuruh bolak-balik sendiri tanpa pengantar).

B. Peran Komunitas (LSM/Kader)

Komunitas memiliki indikator keberhasilan yang sama dengan fasyankes dalam meningkatkan cakupan.

Tugas Komunitas Pendukung TBC:

  • Edukasi pasien TBC untuk mau tes HIV.
  • Mengantar pasien TBC positif HIV ke layanan ARV.
  • Mendampingi minum obat OAT.
  • Melakukan pelacakan kontak (investigasi kontak).

Tugas Komunitas Pendukung HIV:

  • Skrining TBC pada ODHIV (4 Gejala + 1 Tanda).
  • Merujuk ODHIV terduga TBC ke poli TBC.
  • Memastikan ODHIV yang tidak sakit TBC mendapatkan TPT.
  • Membantu kepatuhan minum ARV.

BAB V: KOLABORASI TBC-HIV DI LAPAS/RUTAN

Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) memiliki risiko 10 kali lebih tinggi terkena TBC dibanding populasi umum .

Prinsip Layanan di Lapas/Rutan

  1. Skrining Wajib: Saat WBP baru masuk, saat ada gejala, dan skrining massal berkala.
  2. One Stop Service: Layanan TBC dan HIV dilakukan di Klinik Lapas pada waktu bersamaan.
  3. Logistik: Disediakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat (Lapas sebagai satelit Puskesmas/Dinkes).
  4. Isolasi: WBP yang infeksius (TBC paru bakteriologis positif) harus dipisahkan dari WBP lain selama fase penularan.

BAB VI: PENCATATAN & PELAPORAN (SITB - SIHA)

Tantangan terbesar kolaborasi adalah beda aplikasi (SITB untuk TBC, SIHA untuk HIV). Berikut jembatannya:

1. Alur Pencatatan (Model Poli Terpisah)

Di Poli TBC:

  • Pasien TBC dites HIV.
  • Hasil tes HIV dicatat di Formulir TBC.06 dan diinput ke SITB.
  • Jika Positif HIV:
    • Rujuk ke Poli HIV dengan Formulir Rujukan Tes & Pengobatan HIV.
    • Petugas TBC mencatat status "Mulai ARV" di TBC.01.

Di Poli HIV:

  • ODHIV diskrining TBC.
  • Hasil skrining dicatat di Ikhtisar Perawatan HIV dan diinput ke SIHA.
  • Jika Terduga TBC:
    • Rujuk ke Poli TBC dengan Formulir Rujukan Tes & Pengobatan TBC.
    • Petugas HIV menerima umpan balik hasil diagnosis (TBC Positif/Negatif) dari Poli TBC untuk diinput ke SIHA.

2. Indikator Keberhasilan (Target Nasional)

Fasyankes wajib memantau indikator ini setiap bulan/triwulan:

NoIndikatorTarget IdealSumber Data
1Persentase pasien TBC mengetahui status HIV100%SITB
2Persentase pasien TBC-HIV mendapatkan ARV100%SITB
3Persentase pemberian TPT pada ODHIV baru$\ge$ 50%SIHA
4Persentase ODHIV baru yang diskrining TBC100%SIHA

LAMPIRAN: LOGISTIK OBAT

Daftar Logistik Wajib Tersedia

Dinas Kesehatan dan Fasyankes wajib menghitung stok penyangga (buffer stock) untuk item berikut agar tidak terjadi kekosongan saat pasien koinfeksi datang:

1. Program HIV:

  • Reagen Rapid Test (R1, R2, R3).
  • Obat ARV (Kombinasi Dosis Tetap/TLD).
  • Obat TPT (Kombinasi 3HP atau Isoniazid Lepasan).
  • Kotrimoksasol 960mg.

2. Program TBC:

  • Cartridge TCM (Tes Cepat Molekuler).
  • OAT Lini Pertama (KDT dan Lepasan).
  • Obat efek samping (Vitamin B6, Antiemetik).

Rumus Perhitungan Stok 3HP: (Target ODHIV Baru + ODHIV Lama yang belum TPT) x Persentase Target TPT Satu pasien membutuhkan 1 paket (isi 36 tablet untuk 12 minggu).