PEDOMAN PETUNJUK PRAKTIS TERAPI INSULIN PADA PASIEN DIABETES MELITUS 2021
Penerbit: Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Tahun: 2021
BAB I PENDAHULUAN
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang memerlukan penatalaksanaan berkelanjutan. Terapi insulin merupakan salah satu pilar penting dalam pengelolaan DM, terutama DM Tipe 1 dan DM Tipe 2 yang tidak terkendali dengan obat antidiabetes oral (OAD) atau memiliki kondisi khusus.
Buku pedoman ini disusun untuk memberikan panduan praktis bagi dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, dan konsultan endokrinologi dalam memulai, melakukan titrasi, dan mengintensifkan terapi insulin.
BAB II JENIS DAN KARAKTERISTIK INSULIN
Insulin diklasifikasikan berdasarkan lama kerjanya (duration of action) dan asalnya (human vs analog). Pemilihan jenis insulin disesuaikan dengan kebutuhan fisiologis pasien (basal atau prandial).
Tabel 1. Karakteristik Farmakokinetik Insulin
| Jenis Insulin | Contoh Sediaan | Awitan (Onset) | Puncak Efek (Peak) | Lama Kerja (Duration) | Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
| Kerja Cepat (Rapid-Acting) | Aspart (Novorapid®) | 5–15 menit | 1–3 jam | 3–5 jam | Insulin Prandial (Makan) |
| Lispro (Humalog®) | 5–15 menit | 1–3 jam | 3–5 jam | ||
| Glulisine (Apidra®) | 5–15 menit | 1–3 jam | 3–5 jam | ||
| Kerja Pendek (Short-Acting) | Human Regular (Humulin® R, Actrapid®) | 30–60 menit | 2–4 jam | 6–8 jam | Perlu disuntik 30 menit sebelum makan |
| Kerja Menengah (Intermediate) | NPH (Humulin® N, Insulatard®) | 1,5–4 jam | 4–10 jam | 12–18 jam | Insulin Basal (sering keruh/susu) |
| Kerja Panjang (Long-Acting) | Glargine U-100 (Lantus®) | 1–3 jam | Tanpa puncak | 24 jam | Insulin Basal (jernih) |
| Detemir (Levemir®) | 1–3 jam | Tanpa puncak | 12–24 jam | ||
| Glargine U-300 (Toujeo®) | 1–3 jam | Tanpa puncak | > 24 jam | Profil lebih stabil | |
| Kerja Ultra-Panjang | Degludec (Tresiba®) | 30–60 menit | Tanpa puncak | > 42 jam | Fleksibilitas waktu suntik tinggi |
| Campuran (Premixed) | Premix Human (70/30) | 30–60 menit | Dual | 10–16 jam | Campuran NPH + Regular |
| Premix Analog (Biphasic Aspart) | 5–15 menit | Dual | 10–16 jam | Campuran Protamine Aspart + Aspart |
Catatan:
- Insulin Basal: Mengendalikan glukosa darah puasa (GDP) dan antar makan.
- Insulin Prandial: Mengendalikan lonjakan glukosa darah setelah makan (GDPP).
BAB III INISIASI TERAPI INSULIN
3.1. Indikasi Memulai Insulin
Terapi insulin harus dipertimbangkan pada kondisi berikut:
- HbA1c > 9% dengan gejala dekompensasi metabolik (penurunan berat badan cepat, poliuria, polidipsia).
- HbA1c > 7% meskipun sudah menggunakan kombinasi 2 atau 3 obat antidiabetes oral (OAD) dengan dosis optimal.
- Krisis hiperglikemia (Ketoasidosis Diabetik atau Status Hiperosmolar).
- Kondisi stress berat (infeksi sistemik, operasi besar, infark miokard akut, stroke).
- Kehamilan dengan diabetes (jika kendali tidak tercapai dengan diet).
- Gangguan fungsi ginjal atau hati berat yang menjadi kontraindikasi OAD.
3.2. Algoritma Inisiasi (Memulai) Insulin
Pada DM Tipe 2, pendekatan yang paling umum adalah memulai dengan Insulin Basal sekali sehari.
Langkah-langkah Inisiasi:
- Pilih Insulin Basal: Glargine, Detemir, Degludec, atau NPH.
- Waktu Suntik: Malam hari (menjelang tidur) atau pagi hari (waktu yang sama setiap hari).
- Dosis Awal:
- 10 Unit/hari, ATAU
- 0,1 – 0,2 Unit/kgBB/hari.
- Pertahankan OAD: Metformin biasanya tetap dilanjutkan. Golongan Sulfonilurea (glimepiride/glibenclamide) mungkin perlu diturunkan dosisnya atau dihentikan jika risiko hipoglikemia tinggi.
3.3. Titrasi Dosis (Penyesuaian)
Tujuan titrasi adalah mencapai target Glukosa Darah Puasa (GDP) 80 – 130 mg/dL tanpa hipoglikemia.
- Frekuensi Titrasi: Evaluasi setiap 3 hari.
- Cara Titrasi:
- Jika GDP rata-rata > 130 mg/dL: Naikkan dosis 2 Unit.
- Jika GDP > 180 mg/dL: Naikkan 4 Unit.
- Jika terjadi Hipoglikemia (GD < 70 mg/dL): Turunkan dosis 2–4 Unit atau 10-20%.
BAB IV INTENSIFIKASI TERAPI INSULIN
Jika target HbA1c belum tercapai setelah 3 bulan penggunaan insulin basal optimal (GDP sudah target, tapi HbA1c masih tinggi), maka penyebabnya kemungkinan adalah tingginya gula darah setelah makan (Post-Prandial). Maka diperlukan Intensifikasi.
Opsi 1: Basal-Plus (1 Suntikan Tambahan)
- Tambahkan 1 kali suntikan Insulin Kerja Cepat (Prandial) sebelum makan besar utama.
- Dosis Awal: 4 Unit atau 10% dari dosis basal.
- Titrasi berdasarkan gula darah 2 jam post-prandial.
Opsi 2: Basal-Bolus (Full Intensifikasi)
- Insulin Basal (1x) + Insulin Prandial (3x tiap makan).
- Merupakan standar emas peniruan fisiologis insulin tubuh.
- Dosis total harian dibagi: 50% Basal dan 50% Prandial (dibagi 3 makan).
Opsi 3: Insulin Campuran (Premixed)
- Mengganti basal dengan insulin premix (campuran kerja cepat/pendek dan menengah).
- Diberikan 2 kali sehari (sebelum sarapan dan makan malam).
- Lebih praktis (2 suntikan) namun kurang fleksibel dibanding basal-bolus.
BAB V PEMANTAUAN DAN KOMPLIKASI
5.1. Target Pengendalian
- HbA1c: < 7% (individualisasi: 6.5% untuk usia muda/sehat, 8% untuk lansia/komorbid).
- Glukosa Darah Puasa (GDP): 80 – 130 mg/dL.
- Glukosa Darah 2 Jam PP: < 180 mg/dL.
5.2. Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah kadar glukosa darah < 70 mg/dL.
Gejala:
- Gemetar, berdebar, keringat dingin, lapar, pusing, bingung, hingga penurunan kesadaran.
Tata Laksana (Aturan 15):
- Periksa GD, jika < 70 mg/dL:
- Konsumsi 15-20 gram karbohidrat cepat serap (2-3 sendok gula pasir dilarutkan air, atau 150-200 ml teh manis/jus buah). Hindari makanan berlemak (coklat/susu) karena memperlambat absorpsi.
- Tunggu 15 menit, periksa ulang GD.
- Jika masih < 70 mg/dL, ulangi pemberian karbohidrat.
- Jika sudah normal, makan camilan atau makanan utama untuk mencegah berulang.
- Jika pasien tidak sadar: Jangan beri minum (tersedak). Berikan Dektrosa 40% Intravena atau Glukagon IM.
BAB VI SITUASI KHUSUS (RUMAH SAKIT)
Pada pasien rawat inap dengan hiperglikemia (GDS > 180 mg/dL), terapi pilihan utama adalah Insulin.
- Kritis/ICU: Insulin Intravena (Drip) kontinu.
- Non-Kritis: Insulin Subkutan Basal-Bolus Terjadwal.
- Sliding Scale (Skala Luncur): Tidak direkomendasikan sebagai terapi tunggal jangka panjang, hanya untuk koreksi sesaat.
Transisi IV ke Subkutan: Saat pasien stabil dan mulai makan, hitung kebutuhan insulin 24 jam terakhir. Berikan 60-80% dari total dosis tersebut sebagai dosis subkutan (50% basal, 50% prandial). Berikan suntikan subkutan 1-2 jam sebelum stop insulin drip.
BAB VII PENYIMPANAN INSULIN
- Insulin yang belum dibuka: Simpan di lemari pendingin (suhu 2–8°C). Jangan dibekukan (freezer). Tahan hingga tanggal kadaluarsa.
- Insulin yang sedang dipakai (in-use): Boleh disimpan di suhu ruang (sejuk, < 30°C) selama 28 hari (4 minggu). Hindari paparan sinar matahari langsung atau panas ekstrem (dalam mobil).